Duo Backpacker Explore Jawa Timur (Batu Malang) Part 2

Assalamualaikum wr.wb

Hallo apa kabar semuanya ???. Semoga baik-baik yaa hehehe… Kali ini gua mau cerita tentang kelanjutan perjalanan gua Duo Backpacker Explore Jawa Timur ( Banyuwangi ) Part 1 . Untuk destinasi di jawa timur yang gua tuju selanjutnya adalah Batu Malang. Kenapa kami berdua memilih Batu Malang, kenapa gak Bromo aja… ? Karna kami setelah lelah-lelahan dengan mendaki kawah ijen, serta pergi ke pantai yang perjalanannya jauh dan medannya rusak, kali ini kami ingin ke tempat wisata yang santai-santai saja dan hanya untuk ngopi-ngopi saja hehe… maka diputuskanlah untuk pergi ke Batu Malang saja.

Oke skip, Dari stasiun karangasem kami berangkat ke Malang menggunakan jasa angkutan kereta api. Kami menaiki kereta api kelas ekonomi yaitu Tawang Alun yang dijadwalkan berangkat pkl. 05.15 WIB. Wauuuuww pagi banget ya wkwwk… tapi tenang di daerah Banyuwangi ini pkl 05.00 pun sudah terang karena tau sendirilah letaknya di paling ujung timur Pulau Jawa. Oke lanjut hehe.. Tiket kereta api Tawang Alun seharga Rp. 62.000,- Dan kami telah membelinya seperti biasa lewat aplikasi. Pukul 04.30 WIB kami pun pamit kepada Pak Subur dan Bu Dewi sang pemilik penginapan, kami pun berdua bergegas untuk sarapan pagi dulu di sebelah penginapan yang terdapat rumah makan. Setelah sarapan kami pun mencetak tiket untuk proses boarding.

Cetak tiket dulu sebelum boarding masuk peron stasiun

Perjalanan kali ini memakan waktu tempuh sekitar 7 jam 20 menit, kami pun bersiap untuk menaikki kereta. Pukul 05.15 tepat pada jadwal yang ditentukan kereta api di berangkatkan. Di dalam gerbong kami mendapatkan tempat duduk yang didepan kami tidak ada orangnya sampai stasiun Malang, Alhamdulillah bisa selonjoran wkwkwk. Di kereta kegiatan gua ngedit-ngedit video yang kemarin di Banyuwangi, lumayan lah membuat perjalanan gak berasa hehe.

Kereta Api Tawang Alun meninggalkan stasiun Karangasem.
Bangku depan kosong jadi di isi sama Eddy.

Pukul 12.35 WIB kami pun tiba di stasiun Malang, gua pada saat itu langsung menghubungi jasa penyewaan motor. Motor kami sewa seharga Rp. 70.000,-/hr , kami menyewa untuk 2 hari. Kami ditawarkan menambah Rp. 10.000 dan mengembalikannya nanti pada saat kereta mau berangkat pulang ke Jakarta…oke gak usah pake pikir lama kita langsung deal. Setelah kunci motor sudah dipegang kami pun langsung mencari makan siang, dan tujuan kami adalah Bakso Presiden yang terkenal bagi wisatawan kalo ke Malang. Sekitar 15 menit dari stasiun Malang, lokasinya persis berada di pinggir rel kereta api….wauwww ngeri-ngeri sedap wkwkwk. Menu dan harganya variatif ada bakso sapi,bakwan malang, bahkan ada yang berisi jeroan.

Setelah kami selesai makan,kami langsung mengarah ke Batu Malang dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Kami mencari penginapan kami yang bernama Sahar Backpacker yang lokasinya berada di kota Batu Malang, letaknya strategis 10 menit ke alun-alun, 5 menit ke museum angkut dan 10 menit ke Jatim Park. Harga penginapannya pun murah meriah sekitar Rp. 95.000/malam dengan fasilitas bebas minum kopi,teh sepuasnya, masak mie sepuasnya, dan sudah termasuk sarapan. Penginapannya pun bersih, recomended deh pokoknya..bisa dipesan melalui aplikasi Booking.com dan Traveloka.

Setelah sampai di penginapan kami pun berisitrahat, dan pada malam hari selepas isya kami pun pergi ke alun-alun kota Batu. Di alun-alun batu ramai pengunjungnya mayoritas muda-mudi, mungkin karna tempatnya asyik buat nongkrong kali yaa. Di sini terdapat bianglala mini dengan tiket Rp 5.000 kalo ingin naik, kami pun tertarik mencobanya. Oh iya disini juga banyak penjual makanan, jadi jangan khawatir kelaperan wkwkk.

Terdapat Bianglala di alun-alun dan banyak papan himbauan dilarang merokok.
View dari atas bianglala
Makan sate dengan diiringi musik oleh musisi jalanan.

Puas bermain di alun-alun kami memutuskan untuk kembali ke penginapan untuk beristirahat. Keesokan harinya kami pergi ke tempat wisata taman langit gunung banyak, disini terdapat tempat untuk bermain paralayang. Tak beda jauh seperti di Puncak Bogor.

Papan selamat datang di Wisata Gunung Banyak daerah Batu Malang.
View seperti ini sering kita jumpai di Puncak Bogor.

Setelah puas menghirup udara segar di wisata gunung banyak, kami pun segera menuju tempat yang selanjutnya yaitu Coban Rondo. Sebelum ke Coban Rondo kami bermain sebentar di taman labirin, yang letaknya masih 1 kawasan dalam Coban rondo.

Si Eddy yang sedang gua arahin untuk keluar dari labirin wkwk.

Nah setelah itu…kami langsung menuju Coban rondo. Coban/curug/grojogan atau yang biasa disebut air terjun ini memliki total tinggi sekitar 84 meter.. wauuww tinggi sekali yaa . Harga tiketnya sebesar Rp 15.000,- parkir motor sebesar Rp. 4.000,-. Parkirannya luas, bahkan bus-bus besar pun bisa sampai masuk kesini. Di parkiran coban rondo banyak sekali di dapati monyet-monyet yang berkeliaran. Untuk kalian yang kesini harap berhati-hati apa bila membawa makanan, jangan sampai kalian membawanya dengan cara di tenteng.. nanti pasti kalian di kerubungi dan direbut makanannya, seperti gua lagi enak-enak makan pentol (cilok) eh langsung di kerubungi, eiittts tetapi monyet-monyet pada kalah cepet sama gua wkwkwk.. makanannya gua habisin dulu hehe… kasihan deh lo MONYET !!! Wkwkwk..

Disekitar pohon itu banyak banget monyet-monyetnya.
Gapura menuju Coban Rondo
Perhatikan titik kecil dibawah Coban itu adalah manusia, jadi kebayangkan tingginya ???
Apa yang sedang saya lihat hayoo ?

Jam makan siang pun sudah tiba, perut pun sudah keroncongan. Waktunya sekarang mencari makanan.. berbekal rekomendasi dari pemilik penginapan kami pun pergi ke salah satu desa yang letaknya tak begitu jauh dari coba rondo ini yaitu desa Pujon Kidul. Hasil dari ide para karang taruna setempat, di desa itu sebuah sawah di sulap menjadi cafe yang berupa saung-saung dari bambu dan taman-taman yang ditumbuhi bunga-bunga yang indah. Tiket masuk sebesar Rp . 8.000,- dan kita mendapatkan kupon free sebesar Rp.5000,- yang bisa ditukarkan dengan makanan atau minuman. Menu disini variatif, dari yang ringan seperti cemilan atau yang berat seperti nasi. Kami pun memesan makanan berupa nasi+ayam bumbu rujak+bakwan jagung+sayur nangka+krupuk. Kupon free yang Rp. 5.000,- digabungkan dan menjadi total Rp. 10.000,- dan kami tukarkan dengan singkong goreng keju. Kami gak menyangka ternyata singkongnya dapat banyak banget, sampai-sampai kami bawa pulang dan kami beri kepada yang punya penginapan. Menurut saya ini ide yang sangat brilian dari karang taruna setempat, bisa membuat konsep yang unik dan bisa memikat banyak pengunjung.

Banyak berupa saung-saung dan masih banyak lagi sebagian dalam proses pembangunan
Dengan view perbukitan menjadi lebih menarik bagi pengunjung.
Saungnya tertata rapih dan banyak, jangan khawatir tidak kebagian tempat.
Menu makan yang kami pesan

Setelah makan kami tadinya mau berendam dikolam pemandian air panas cangar, namun karna kondisi hujan kami pun hanya berendam di kolam air panas songgoriti. Tak ada dokumentasi disini karna kondisi sedang hujan, setelah berendam kami pun langsung kembali ke penginapan mengingat kondisi cuaca yang kurang bersahabat.

Malam hari kami memutuskan hanya mencari makan di alun-alun Batu, setelah itu kembali ke penginapan untuk istirahat. Besok pagi sebelum chek out kami menyempatkan untuk berbelanja oleh-oleh terlebih dahulu untuk keluarga tercinta. Apalagi kalo bukan apel malang dan kripik apel malang, itulah oleh-oleh khas kota Malang. Pukul 12.00 WIB kami chek out dan menuju ke stasiun Malang, sebelumnya kami seperti biasa berbelanja logistik dan makan terlebih dahulu agar diperjalanan nanti tidak kelaparan hehe. Kami mengembalikan motor pukul 16.30 WIB karna kereta berangkat pukul 17.30 WIB. Kami menggunakan kereta api Matarmaja tujuan akhir stasiun Ps Senen, dengan harga tiket Rp. 109.000,-. Perjalanan menempuh waktu sekitar 15 jam 50 menit, dan dijadwalkan tiba di Ps Senen pkl 09.20 WIB.

Ruang tunggu stasiun Malang

Sekian perjalanan yang melelahkan kami mengeksplore Jawa Timur, sekitar 1 minggu kami berada di daerah orang lain. Kami belajar banyak hal, bertemu orang-orang baru dan hal-hal baru membuat kami semakin cinta kepada kekayaan di tanah air kita tercinta ini.

Kurang lebihnya mohon maaf atas catatan perjalanan ini, semoga bermanfaat.

Wasalamualaikum wr.wb

Duo Backpacker Eksplore Jawa Timur ( Banyuwangi) part 1

Assalamualaikum wr.wb

Hallo semua….masih pada sehat kan ?? Hehe… Oke setelah gua membuat catatan perjalanan yang pertama yaitu Backpacker ke Dieng dan Gunung Prau , kali ini gua ingin membagikan catatan perjalanan gua mengeksplore keindahan di ujung Jawa Timur yaitu Banyuwangi. Catatan perjalanan ini gua buat menjadi 2 bagian, karna yang kedua nanti gua mengeksplore kota yang berbeda namun masih tetap di wilayah provinsi Jawa Timur juga. Oke seperti yang sebelumnya  perjalanan kali ini gua lakukan juga pada tahun 2017, tepatnya pada tanggal 10 November 2017. Gua mengeksplore Banyuwangi ini hanya berdua bersama kawan gua yang juga ikut berangkat ke Dieng waktu lalu namanya Eddy.

Perjalanan kami mulai pada pukul 08.00 wib dengan menaikki krl dari stasiun Pondok cinta Cina menuju stasiun Gondangdia, keadaan didalam krl penuh sesak secara pada saat itu masih hari kerja yaitu hari Jumat. Dari stasiun gondangdia kami melanjutkan perjalanan ke stasiun Pasar Senen dengan menggunakan bajaj. Pada waktu itu ongkos bajajnya Rp. 15.000,- , namun sebelum menaiki bajaj kami berdua memutuskan untuk membeli kebutuhan logistik dulu di Indomaret sekitaran stasiun Gondangdia, agar kami mempunyai bekal yang cukup dari segi makanan dan minuman di dalam kereta selama perjalanan. Setelah selesai berbelanja kebutuhan logistik kami pun mengarah ke stasiun Ps. Senen dengan menggunakan bajaj, kira-kira sekitar 15 menit lah dari stasiun Gondangdia ke stasiun Ps. Senen.

Setibanya di stasiun Ps. Senen kami mencetak tiket yang sudah kami beli melalui aplikasi. Kami menggunakan kereta api ekonomi Gaya Baru Malam Selatan (GBMS) tujuan Surabaya Gubeng dengan harga tiket sebesar Rp 104.000,- , dan di aplikasi tersebut terdapat potongan harga sebesar Rp. 10.000,- , jadi kami sampai Surabaya hanya membayar Rp 94.000,- wkwkwk , murah meriah kan …? Sebagai Backpacker kita harus smart dalam urusan badget betul gak ?.. hehehe…Lagi pula tenang kok murah bukan berarti kualitasnya asal-asalan. Kereta api kelas ekonomi sekarang sudah tertata rapih dan terdapat pendingin udara juga di dalam setiap gerbong. PT. KAI telah berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pelayanan penumpang, terlebih itu adalah kereta api jarak jauh yang memakan waktu tempuh lama, yang pasti akan menjadi prioritas utama PT. KAI dalam pembenahan dan peningkatan kualitas pelayanan.

Oke balik lagi ke laptop cerita heheh… Waktu telah menunjukkan pukul 09.15 WIB, itu artinya proses boarding untuk masuk ke dalam peron stasiun telah dibuka. Kereta api GBMS ini dijadwalkan berangkat pukul 10.15 WIB, kami pun segera melakukan proses boarding untuk menuju ke kereta. Waktu tempuh untuk menuju Surabaya sekitar -/+ 16 jam . Lama banget yaaa… ? Karna KA GBMS ini melewati jalur selatan via Purwokerto, Kebumen, Jogja dan lalu mengarah ke arah Surabaya. Gak kebayangkan betenya kaya apa di kereta wkwkwk …

Ini Kereta Api Gaya Baru Malam Selatan di stasiun Ps. Senen menunggu jadwal pemberangkatan

Jam menunjukkan pukul 10.15 WIB. Sang kondektur pun siap menerima aba-aba dari pengawas area peron (PAP) untuk memberangkatkan kereta. Peluit pun di bunyikan oleh sang kondektur, pertanda kereta akan segera di berangkatkan. Di dalam kereta sendiri kami banyak menghabiskan untuk mengobrol=》main hp=》tidur=》ngemil=》mengobrol=》main hp=》tidur=》ngemil=》. Gitu-gitu aja terus sampai 16 jam wkwkwk…

Di dalam gerbong KA GBMS di malam hari
Muka lelah dan bete wkwk

Tak banyak cerita di perjalanan karna aktivitas kami hanya monoton begitu-begitu saja hehe… Singkat cerita KA GBMS yang kami tumpangi sudah sampai di tujuan akhir stasiun Surabaya Gubeng. Tepat pukul 01.35 WIB kereta sampai ,sesusai jadwal yang tertera. Dan kami bergegas keluar stasiun untuk mencari mushola untuk keperluan ibadah dan bersih-bersih. Berjarak 300 meter dari stasiun terdapat pom bensin, ya sudah disitu menjadi tempat kami bersih-bersih dan melakukan ibadah.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 03.00 WIB, kami pun segera mencari makanan untuk mengisi perut kami sebelum kami melanjutkan lagi perjalanan ke Stasiun Karangasem Banyuwangi. Kaki ini melangkahkan ke arah stasiun Surabaya Gubeng kembali, di sini kami makan nasi goreng yang berada tepat di depan stasiun. Namanya nasi goreng suramadu, uniknya nasi goreng ini tidak pakai sambal tetapi memakai irisan cabai untuk menambah rasa pedasnya. Pagi-pagi udah ketemu cabe bulet-bulet wkwk, tetapi enak sih nasi gorengnya . Yaa lumayan lah untuk mengganjal perut hehe.

Setengah jam kami menghabiskan waktu untuk makan, dan tibalah pukul 03.30 WIB. Pintu boarding telah dibuka dan kami pun mencetak tiket yang telah kami pesan juga sebelumnya di aplikasi. Kami akan menaiki KA Probowangi yang bertujuan akhir stasiun Banyuwangi Baru, kereta di jadwalkan berangkat pukul 04.25 WIB. Harga tiketnya sebesar Rp. 56.000,-. Perjalanan memakan waktu tempuh sekitar 7 jam, gak kebayangkan pegelnya seperti apa ? Setelah 16 jam + 7 jam wkwkwk … Pukul 04.00 WIB kami melakukan proses boarding, setelah itu kami sempatkan untuk ibadah sholat subuh di mushola yang berada di area peron stasiun. Setelah selesai kami bersiap untuk menaiki KA Probowangi.

KA Probowangi siap diberangkatkan

Di kereta kami melanjutkan tidur karna ngantuk dan lelah sekali. Dan ketika kami terbangun kami telah berada di stasiun Jember, nah yang saya suka dari perjalanan Jember =》 Banyuwangi ini adalah view pemandangan yang indah banget, melintasi bukit-bukit dan alas gumitir . Sumpah keren banget…

Tak lama berselang kami pun akhirnya tiba di stasiun Karangasem pukul 11.24 WIB tepat sesuai jadwal, kenapa kami memilih stasiun Karangasem di banding memilih stasiun Banyuwangi Baru ? Karna stasiun Karangasem letaknya lebih strategis dan lebih dekat dengan pusat kota. Dan diepan stasiun persis terdapat penginapan dan penyewaan motor. Kami pun segera menghampiri ke tempat penginapan yang terkenal dengan nama Toko Pak Subur. Kalangan Backpacker yang pernah ke Banyuwangi pasti sudah tau penginapan toko Pak Subur. Pemiliknya ramah Pak subur dan sang istri Bu Dewi, kami pada saat itu di sambut oleh Bu Dewi . Oh iya kami sudah menghubungi jauh-jauh hari untuk ketersediaan kamar dan motor yang akan nanti kami sewa loh yaa.. Bu Dewi pun mengantarkan kami ke kamar yang berada di atas. Kami mendapatkan kamar yang berhadapan langsung dengan stasiun. Pokoknya mantap lah jadi rame hehe. Harga sewa/kamar Rp 90.000,- dan kami menginap selama 3 hari disini. Kami beristirahat dulu setelah lelah melakukan perjalanan seharian dari Jakarta menuju Banyuwangi..

Stasiun Karangasem yang di foto dari tempat penginapan

Waktunya explore hari pertama di Banyuwangi hehe…Sekitar pukul 14.15 WIB menjelang sore kami memutuskan untuk mencari makan siang dan sekalian pergi ke taman nasional Baluran. Kami memutuskan untuk makan sego tempong Mbok Wah yang terkenal di karangasem. Berbekal arahan dari Ibu Dewi kami pun bergegas menuju kesana dengan menggunakan motor Vario 125 cc yang kami sewa di penginapan selama 2 hari. Untuk harga sewanya Rp 85.000,-/hari, kami mendapatkan motor yang terbilang masih oke dari segi tenaga,pengereman dan ban. Oke skip…waktunya kita menuju ke rumah makan Mbok Wah yang berjarak sekitar 2 km dari penginapan. Namun setelah kami berjalan tidak juga ketemu rumah makan tersebut, hampir 20 menit kami mutar-muter kesasar wkwkwk. Dan akhirnya kita menggunakan GPS , tak beberapa lama kami pun sampai tujuan. Kami terlalu meremehkan dengan sok tau mencari tempat itu tanpa bantuan GPS walaupun hanya berjarak 2 km wkwkwk. Akhirnya kami berdua makan di tempat itu dengan menu khasnya sego tempong. Kenapa dinamakan sego tempong ?.. karna nasi dan lauknya banyak banget, sudah seperti mau menempong orang wkwk. Lalapan rebus dan sambelnya itu loh yang menjadi ciri khasnya…pedes banget sumpah, ditambah lauk pauk seperti Ayam, Ikan, Empal, tahu, tempe jadi makin nikmat.

Setelah kenyang makan waktunya kami meneruskan perjalanan ke Taman Nasional Baluran yang terletak di kabupaten Situbondo Jawa Timur. Jarak antara Karangasem ke Taman Nasional Baluran -/+ sekitar 50 km , memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Kami menyusuri jalan Banyuwangi-Situbondo dengan bermodalkan GPS di smartphone kami. Kami melewati pelabuhan ketapang Banyuwangi yang berada di sebelah kanan jalan. Bagi kamu yang ingin ke Bali, disinilah tempat penyebrangan dengan menggunakan kapal fery. Gua pun terus memacu kendaraan sampai di angka kecepatan 90 km/jam ke atas karna jalanan terbilang sangat sepi, dan agar tidak kemalaman sampai sana. Sesekali kami berhenti untuk menanyakan kepada GPS yang lain yaitu Gunakan Penduduk Setempat untuk meyakinkan bahwa kami tidak salah jalan.

Pukul 16.15 WIB tibalah kami di gerbang masuk Taman Nasional Baluran. Kami pun harus membayar tiket masuk sebesar Rp 17.500/org dan untuk motor roda 2 sebesar Rp 7.500,- karna kami datang pada hari sabtu, biasanya hanya Rp 15.000,-untuk tiket masuk dan Rp 5.000,- untuk motor.

Ketika berada digerbang masuk

Dari gerbang masuk ke savana bekol sekitar setengah jam lagi. Tak perlu berlama-lama kami langsung tancap gas lagi untuk menuju ke savana bekol, jalan menuju savana bekol sangat rusak parah, jalan bebatuan harus kami lewati, untung saja kami dapat melaluinya dengan baik. Setelah kami berjuang melewati jalanan bebatuan akhirnya kami sampai di savana bekol. Horeee…..wkwkwkwk…

Papan selamat datang savana bekol
Bendera komunitas tak pernah ketinggalan wkwk
Berteduh di pelukanmu bawah pohon wkwk
Action dulu guys

Di savana ini banyak terdapat hewan rusa dan beberapa burung merak. Kita gak boleh dekat-dekat dengan hewan tersebut karna dikhawatirkan akan mengganggu aktivitas hewan tersebut. Setelah puas berfoto kami pun langsung menuju pantai Bama yang letaknya tak jauh dari savana bekol dan masih dalam kawasan Taman Nasional Baluran. Hanya 5 menit perjalanan dari savana bekol, di sepanjang jalan banyak terdapat monyet-monyet berkeliaran, tenang mereka tidak mengganggu kok hehehe… Setelah sampai di tujuan kami hanya duduk-duduk santai di pinggiran pantai, kami tidak bermain air karna hari sudah sore.

Bersih ya pantainya..

Tak terasa sudah pukul 17.00 WIB dan kami belum melaksanakan sholat Ashar, akhirnya kami pun bergegas ke mushola yang berada di savana bekol untuk melaksanakan sholat Ashar. Setelah kami selesai melaksanakan sholat Ashar, kami pun langsung kembali ke tempat penginapan dengan melewati rute yang sama ketika kami berangkat tadi. Sesampainya di penginapan kami pun istirahat untuk melakukan perjalanan esok hari ke tempat wisata lainnya hehe…

Hari berganti musim pun berubah wkwk lebay hahaha.. Sekarang waktunya explore Banyuwangi hari ke 2. Pagi-pagi setelah sholat subuh dan sarapan kami berdua langsung ingin tancap gas, teluk hijau dan pantai pulau merah. Berbekal petunjuk dari Pak Subur sang pemilik penginapan tentang rute perjalanan kami pun langsung tanpa berlama-lama untuk melakukan perjalanan menuju destinasi tersebut. Jarak tempuh dari penginapan kami ke teluk hijau sekitar 90 km dan memakan waktu sekitar 2 jam untuk kami dengan menggunakan sepeda motor. Selain berbekal petunjuk dari pak Subur kami pun juga selalu setia menggunakan GPS. Jalanannya sepi jarang kendaraan jadi bisa tancap gas sampai di angka 90 km/jam, tetapi harus tetap safety ya kawan hehe… Jalanan menuju ke teluk juga sangat menyenangkan, kita disuguhkan pemandangan dan udara segar dari tumbuh-tumbuhan yang berada di PT. Perkebunan Nusantara (PTPN). Namun pada saat mulai mendekati teluk jalan mulai rusak parah, banyak bebatuan, sehingga sedikit agak sulit mengendalikan kendaraan  sepeda motor. Harga tiket masuknya hanya Rp. 7.500/org, murah kan ?? . Setelah dari tempat parkir motor kami harus berjalan menaiki dan menuruni anak tangga berjarak sekitar 1 km. Dan setelah sampai pantainya… beeuuh mantap deh bersih,sepi  berasa di private beach.

Jalan yang rusak penuh bebatuan menuju teluk
Harus tracking sekitar 1 km menuju teluk hijau
Private beach
Ombaknya tenang

Setelah dari teluk hijau kami pun langsung bergegas untuk ke destinasi selanjutnya yaitu pantai pulau merah. Letaknya tak jauh dari teluk hijau sekitar 30 km, waktu tempuh berkisar antara 45 – 60 menit karna faktor sebagian jalan yang rusak. Di sepanjang jalan menuju pantai pulau merah banyak di temukan penjual buah naga, dan harganya murah 10.000 dapat 2 kg, murah banget ya ?..

Oke setelah sampai seperti biasa kita membeli tiket masuk yang harganya sebesar Rp 8.000/org dan roda 2 dikenakan biaya sebesar Rp 5.000,-. Kami tidak bermain air disini, kami hanya sekedar foto-foto dan menikmati air kelapa hijau bulat yang harganya hanya Rp 10.000/buah. Beda dengan teluk hijau, pantai ini lebih ramai oleh pengunjung.

Gundukkan tanah yang menyerupai pulau dibelakang inilah yang disebut pulau merah dikarenakan tananhnya apabila terkena sinar matahari berwarna kemerah-kemerahan

Puas menikmati suasana pantai kami pun langsung kembali menuju ke penginapan kembali untuk berisitirahat sebelum nanti tengah malam untuk persiapan menuju kawah ijen. Kami sampai di penginapan sekitar pkl 14.15 WIB.

Detik waktu tak berasa sudah pkl 22.00 malam, hujan mengguyur di tanah Banyuwangi pada malam itu. Hati pun merasa cemas, masa iyaa ke kawah ijen harus dibatalkan ?.. pukul 23.00 pun hujan masih mengguyur, kami harus siap-siap sembari berharap hujan akan reda. Kami pun ke lantai bawah ke toko kelontongnya Pak Subur untuk membeli segala perbekalan untuk pendakian ke kawah ijen. Setelah barang-barang yang dibutuhkan sudah terbeli kami pun duduk-duduk di parkiran penginapan Pak Subur, disitu ada penjaga penginapan dan parkiran yang masih kerabatnya pak Subur (saya lupa namanya). Kami pun berbincang-bincang hangat dengan beliau, beliau mengatakan “tenang saja mas, biasanya dikarangasem hujan namun di atas (daerah kawah ijen) kering atau sebaliknya”. Mendengar pernyataan beliau kami pun sedikit lega hehe.. namun jam sudah menunjukkan pkl 23.30 WIB langit pun belum menunjukkan tanda-tanda ia akan menyudahi tangisannya (sok puitis wkwk). Penjaga penginapan tadi pun menawarkan kami “kalau seandainya hujan tidak reda mau gak di carikan mobil rental untuk mengantarkan ke kawah ijen, biayanya Rp.300.000,- PP sudah termasuk driver,bensin ?” . Dalam hati kami mulai tertarik juga sih dari pada tidak sama sekali ke kawah ijen sudah jauh-jauh kesini. Kami pun menjawab “yaudah pak kita tunggu saja sampai jam 1 tengah malam ya pak, kalau seandainya hujan reda kami akan menggunakan sepeda motor saja”.

Setelah berbincang-bincang, Alhamdulillah pkl 23.45,- WIB hujan pun reda dan hanya gerimis kecil. Kami pun segera pamit dengan sang penjaga penginapan, tak lupa memakai jas hujan plastik agar pakaian terhindar dari cipratan bekas air hujan di aspal jalanan. Jarak dari penginapan ke kawah ijen sekitar 40 km, menempuh waktu perjalanan sekitar 1 jam 30 menit dikarenakan sehabis hujan dan jalanan yang berlika-liku naik turun, samping kanan kiri jurang dan minim penerangan serta jarang sama sekali kendaraan melintas , yaiyalah sekarang sudah tengah malam menjelang dini hari wkwk. Kami harus extra waspada dalam berkendara, telat belok sedikit di tikungan bisa langsung masuk ke jurang. Tetapi Alhamdulillah akhirnya kami sampai di parkiran pos paltuding tempat dimana pendakian awal dimulai. Kenapa kami berangkat malam hari ? Karna pos paltuding sendiri baru di buka pkl 01.00 WIB. Harga tiket masuknya RP. 7.500/org,- , inilah yang gua suka dari Banyuwangi untuk HTM wisatanya murah meriah hehe. Sebelum kami mendaki kami sempat mengobrol-ngobrol dengan penjual di kawah ijen bahwa di bawah saat ini suhunya berkisar 6° C mungkin diatas bisa lebih dari ini. Memang benar ketika berbicara saja mulut kita sudah mengeluarkan embun, dingin banget. Tetapi banyak bule-bule di sini hanya pada memakai kemeja lengan pendek tanpa menggunakan jaket wkwkwk, gua juga heran terbuat dari kulit apa mereka haha.. mungkin karna di negaranya pun sudah biasa kali ya dengan suhu seperti ini bahkan lebih extrem lagi dikala musim salju di negara mereka.

Embun keluar dari mulut ketika kami berbicara

Hampir terserang hypotermia di puncak ijen.

Pukul 01.30 WIB kami memulai pendakian, berbekal headlamp dan masker khusus yang kami sewa dipenginapan kaki kami mulai melangkah naik, pendakian memakan waktu sekitar 2-3 jam tergantung kondisi fisik, ketinggian kawah ijen sendiri berkisar 2799 Mdpl. Tracknya cukup bagus dan mudah berupa tanah yang padat, dan Alhamdulillah disini tidak hujan, berarti benar apa yang dikatakan penjaga penginapan tersebut. Kami pun mendaki dengan santai dan mengatur ritme perjalanan, terkadang sesekali beristirahat untuk minum dan memakan wafer coklat agar dapat menambah stamina ketika mendaki. Di sepanjang pendakian cukup ramai jadi jangan takut untuk kalian yang mendaki sendiri tengah malam, sebab banyak pengunjung memilih tengah malam untuk mendaki agar mereka bisa dapat melihat blue fire(Api biru yang tak pernah padam akibat gas didalam bumi) dalam kegelapan. Kalian harus tau bahwa di dunia ini hanya ada 2 blue fire,yang pertama di Islandia dan yang kedua di Indonesia… jadi kalian harus Bangga tuh punya negara yang kaya raya akan keindahan alamnya. Oke skip… Di tengah pendakian kami bertemu pendaki asal Depok juga (lupa namanya wkwk) kami mengobrol sepanjang pendakian, dan kami berpisah ketika hampir di puncak karna mereka ingin istirahat dahulu. Ketika kami sampai dipuncak disinilah masalah mulai terjadi, kami hanya membawa 1 tas, di dalam tas itu terdapat logistik makanan dan baju salin gua, si Eddya yang membawa tasnya. Kami berjalanlah turun untuk ke kawah melihat blue fire, si Eddy jalan duluan dan gua belakangan, ketika beberapa meter ke bawah gua mengurungkan niat untuk melihat ke blue fire karna tracknya curam dan penuh bebatuan. Engkel kaki gua dulu pernah cidera akibat ikut turnamen futsal yang mewakili kantor gua. Melihat track yang seperti itu gua takut kaki gua salah pijak terus bisa terkilir lagi, jadi repot kan nanti wkwk. Akhirnya gua memutuskan untuk naik lagi ke atas sedangkan Eddy terus melanjutkan ke bawah, dan fatalnya gua lupa minta baju salin gua dan logistik yang ada di tas yang Eddy bawa (ampun dah ah). Si Eddy pun mengira gua tetap ikut turun membuntuti dia sampai ke blue fire sampai-sampai katanya dia teriak-teriak nyebutin nama gua padahal gua di atas wkwk… Mulai lah gua merasa kedinginan yang sangat luar biasa, menggigil seada-adanya ditambah lagi baju yang basah karna keringat mudah sekali menyerap dingin, gua bakar rokok berkali-kali supaya bisa sedikit menghangatkan dan agar gua tetap terkontrol dan tetap sadarkan diri. Tetapi itu semua hanya sia-sia, udara dingin tetap menusuk-nusuk kulit padahal sudah pakai kupluk kepala, buff, sarung tangan tetapi tetap saja kedinginan karna gua masih memakai pakaian yang basah karna keringat pas mendaki. Gua pun pasrah segala macam doa, dzikir, isitigfar sudah gua lantunin, tubuh gua sengaja gua ajak jalan mondar-mandir agar tetap terkontrol. Lalu apa yang terjadi ..??? Alhamdulillah pertolongan Allah datang juga, ada pendaki dari Lampung (gua lupa juga namanya wkwk), dia ikut open trip dan dia sudah sampai duluan di puncak sedangkan rombongannya masih tertinggal di belakang. Sembari menunggu rombongannya dia mengajak ngobrol gua panjang lebar mengenai studinya dan pekerjaannya…ya intinya kami saling bertukar ceritalah. Alhamdulillah dalam benak gua berkata, sebab ketika seseorang telah terkena gejala hypotermia harus tetap diajak bicara jangan sampai pikiran kosong dan itu mencegah terjadinya tidak sadarkan diri, jikalau sudah tidak sadarkan diri yasudah Wasalam. Dia pun mengeluarkan beberapa buah anggur dari sakunya dan menawarkan ke gua, gua ambil aja beberapa butir untuk mengasamkan mulut dan agar mulut ada aktivitasnya sebab gigi gua beradu sedari tadi karna menggigil kedinginan. Setelah 30 menitan ngobrol dia pun dipanggil oleh ketua open trip beliau dan kami pun berpisah. Dan gua berasa kedinginan lagi huhuhu ….selang beberapa lama ada terdengar sahut-sahut orang memanggil nama gua, dan ternyata itu si Eddy. Gak pakai lama langsung gua ambil tasnya dan gua ganti baju yang gua pakai dan gua makan serta minum logistik yang ada di tas. Alhamdulillah ya Allah…,gua jelasin dah sama Eddy apa yang terjadi sama gua.

Harus turun kebawah untuk mencapai kawahnya dan penuh perjuangan untuk dapat view seindah ini
Bendera yang mampu mengurangi udara dingin yang menusuk
Ekspresi kedingininan berrrrrrr….
Harus menggunakan masker khusus untuk menghindari aroma yang menyengat dari blerang.

Setelah puas mengabadikan momen di kawah ijen kami pun memutuskan untuk turun. Karna semakin matahari naik maka angin semakin kencang dan aroma blerang pun pasti semakin kuat berhembus. Kami turun secara santai karna sangat kelelahan. Disini banyak yang menawarkan jasa ojek manusia dengan menggunakan gerobak bagi mereka yang sudah kelelahan, biayanya terbilang mahal berkisar Rp 250.000 – Rp 750.000 tergantung seberapa jauh jaraknya. Karna kondisi kami masih terbilang mampu yasudah kami tetap berjalan kaki sampai ke bawah.

Inilah penampakkan ojek menggunakan gerobak dan didorong oleh tenaga manusia, biasanya yang naik adalah ibu-ibu atau bapak-bapak yang sudah tidak muda lagi.
Tracknya nih guys..kami foto ketika kami turun karna semalam gelap pas naik.
Ternyata view pas perjalanan turun bagus juga yaa.. karna pas naik gelap jadi gak terlihat wkwk.
Tracknya bagus, lebar, kontur tanahnya padat dan berpasir jadi mudah untuk dipijak.

Tak terasa pukul 07.30 kami sudah berada di parkiran pos paltuding, kami pun istirahat sejenak untuk minum teh sebelum kembali ke penginapan. Sekitar setengah jam kami istirahat kami lalu bergegas untuk pulang ke penginapan. Di perjalanan pulang seperti biasa gua yang membawa motor, di tengah perjalanan mata gua udah gak bisa di ajak kompromi lagi, akhirnya bertukar posisi lah gua sama Eddy. Baru beberapa menit berjalan motor kami oleng ke kanan, penyebabnya adalah karna gua ketiduran dan tubuh gua hampir rebah ke sebelah kanan wkwkwk… untung si Eddy masih bisa mengendalikannya kalau tidak amsyong dah kita bisa jatuh berdua dan menggantikan body motor yang rusak, tetapi Alhamdulillah sekali lagi kita masih dalam perlindungan Allah S.W.T .

Kami pun sampai di penginapan pukul 10.00 karna kami mampir sebentar untuk sarapan di pertengahan perjalanan. Kami pun mengembalikan motor yang kami sewa tepat 2 hari, Bu Dewi menawarkan kenapa tidak main dulu ke Bali tinggal 45 menit ke pelabuhan lalu tinggal nyebrang menggunakan kapal fery sekitar 30 menit. Kami menolaknya karna alasan keselamatan sebab kami sudah sangat lelah sekali, bahaya bila dipaksakan. Kami pun dari siang sampai malam hanya beristirahat di penginapan untuk memulihkan kondisi fisik agar besok pagi bisa prima untuk melanjutkan perjalanan ke kota lain menggunakan kereta api.

Sekian perjalanan kami dalam mengeksplorasi keindahan alam di Banyuwangi dalam catatan perjalanan gua di jawa timur part 1, nantikan catatan perjalanan gua selanjutnya di Duo Backpacker Explore Jawa Timur (Batu Malang) Part 2 yaaa hehe… semoga catatan ini bermanfaat untuk kalian yang ingin berlibur di Banyuwangi

Terimakasih sudah membaca catatan gua…wasalamualikum wr.wb

Backpacker ke dieng dan gunung prau

Assalamualaikum wr.wb

Hallo..kawan-kawan semua sesama pecinta traveling, Apa kabar semuanya ?? semoga pada sehat ya…biar kita bisa terus mengexplorasi keindahan yang ada di Indonesia…aseeeek hehehe.

Perkenalkan nama gua Budi Fajar Nuary , kali ini gua ingin sedikit berbagi cerita dan catatan perjalanan gua ke sebuah tempat yang udaranya dingin banget…ya benar sekali tempat itu adalah dataran tinggi Dieng yang terletak di Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten wonosobo. Sebenarnya perjalanan ini gua lakukan 2 tahun lalu guys pada tanggal 7-9 oktober 2017, jadi gua baru sempat membagikan pengalaman perjalanan gua pada saat sekarang guyss. Gapapa ya guyss wkwkwk ..hehe

Oke sekarang waktunya kita memulai cinta cerita hehe.. Waktu itu gua pergi bersama 4 orang kawan gua yaitu Ghofar,Eddy,Dani, dan Istiyar yang tergabung dalam komunitas CITRA (Cijago Toll Road Adventure) sesuai dengan namanya kami adalah seorang karyawan dari perusahaan swasta yang bergerak di pengoperasian jalan tol. Oke skip lanjut ke cerita, pada tanggal 7 Oktober 2017 kami ber 5 sudah membeli tiket bus P.O SINAR JAYA jurusan Wonosobo yang berada di agen Simpangan Depok tarifnya pada waktu itu Rp.100.000,- untuk kelas excekutif biasa dengan seat 2-2. Bus akan dijadwalkan berangkat pkl.17.00 W.I.B, dan kami pun datang satu per satu ke titik pemberangkatan di Simpangan Depok. Gua,Dani,Istiyar, dan Eddy sudah ada di tempat dan tinggal tersisa Ghofar secara dia ada acara jadi datang agak sedikit terlambat. Waktu sudah menunjukkan pkl.16.30 W.I.B sedangkan Ghofar belum sama sekali keliatan batang hidungnya, di status W.A nya dia kejebak macet. Kita japri ke dia gak di bales dan kita telpon dia juga gak diangkat, semuanya jadi cemas..masa iya pergi tanpa 1 orang kan gak asik kalo gak lengkap. Dan akhirnya tiba-tiba nih orang dateng dengan santainya cengar-cengir kaya orang tanpa berdosa wkwkwk..Alhamdulillah komplit hehe…

Absen dulu di agen bus PO.Sinar Jaya wkwk
Eddy(depan), Istiyar(kiri), Ghofar(belakang kiri), Dani(Belakang tengah), Gua(Belakang kanan)

Tepat pkl. 17.00 W.I.B bus pun mulai berangkat dari agen, perjalanan pada sore itu cenderung macet dan padat merayap, terlebih setelah gerbang tol pasar rebo sampai ke arah Cikunir dan arah ke Cikampek pengemudi bus ini paling mampu membejek pedal gasnya di sekitaran kecepatan 20 km/jam karna saking padatnya keadaan lalu lintas pada sore itu, mungkin karena faktor jam pulang kantor dan proyek di median jalan tol Jakarta-Cikampek. Dan perjalanan kami habiskan untuk beristirahat di dalam bus.

Waktu menunjukkan pkl. 04.30 W.I.B dan kami pun tak terasa akan sampai di tujuan. Kami meminta sang driver menurunkan kami di plaza Wonosobo karna lebih dekat dengan alun-alun dibandingkan kita turun di terminal Mendolo Wonosobo. Pada Pkl 04.45 kami pun tiba di plaza Wonosobo, setelah turun dari bus sudah banyak micro bus yang berjajar dan menawarkan kami untuk mengantarkannya ke Dieng, berhubung kami ingin menikmati alun-alun kota Wonosobo jadi kami tolak secara halus penawaran mereka guys hehe…

Di alun-alun wonosobo ini guys..kami sempatkan untuk mampir ke masjid Agung yang berada di alun-alun untuk keperluan ibadah ataupun buang hajat di toilet, dan sekalian tempat kami bertemu sama yang menyewakan tenda untuk keperluan di gunung Prau nanti. Murah kok waktu itu sekitar Rp 40.000,-/hari utk kapasitas 5 orang, Solusi yang tepat bagi kalian yang malas membawa barang yang berlebihan ketika traveling wkwkwk…

Setelah bertemu dengan yang empunya tenda kami pun bergegas untuk mencari sarapan dan tempatnya masih di sekitar alun-alun. Dan kami semua memutuskan untuk sarapan mie ongklok makanan khas Wonosobo hehe…masa iya sudah jauh-jauh kesini gak nyobain makanan khas daerah sini yee gaak ? … Mie ini terdiri dari mie (yaiyalah namanya aja mie ongklok), kol, kucai dan yang paling mantapnya yaitu sate sapi yang terdapat 5 tusuk di setiap porsinya lalu mienya di siram dengan semacam kuah kental gitu pokoknya nikmat deh (namanya juga lapar) hehe… harga 1 porsinya murah hanya Rp 15.000,-. Harus nyobain pokoknya kalo kesini !!!

Oke setelah kami mengisi perut, kami lalu berjalan sedikit untuk mencari micro bus yang ke arah Dieng. Dan akhirnya kami dapat micro bus dengan supirnya yang menurut kami asiik, diperjalanan banyak cerita panjang lebar dan sering berbagi canda sama supirnya, inilah yang saya suka dari traveling kita bisa menemukan orang-orang baru dan hal-hal baru.. oh iya naik micro bus ini tarifnya Rp 20.000/org waktu tempuh dari Wonosobo ke Dieng +/- 1 jam. Nah ditengah perjalanan sang supir menawarkan kepada kami untuk diantarkan ke tempat-tempat wisata di Dieng dan untuk perjalanan pulang besok dari dieng ke Wonosobo setelah muncak di gunung Prau. Tadinya beliau membuka harga Rp. 400.000/5 orang, tetapi setelah kami nego dan bercanda sedikit luluh lah sang supir dengan harga Rp. 300.000/ 5 orang. Kalau di hitung-hitung perorang Rp 60.000,- dan ini lebih murah karna kalo di kalkulasikan naik micro bus PP dari Wonosobo-Dieng saja sudah Rp 40.000,- dan itu belum sampai ke tempat-tempat wisatanya yang jaraknya lumayan jauh, kita hanya menambahkan Rp 20.000,-/orang dan tinggal duduk santai tanpa berpindah-pindah angkutan lain menuju tempat-tempat wisata.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Candi Arjuna, Harga tiket masuknya sebesar Rp 15.000,-/org. Bebatuan candinya pun masih tertata rapih dan di komplek candinya pun juga bersih.

Gua sedang memegang bendera CITRA di komplek Candi Arjuna
Ini penampakkan candinya
Muka pada kusut karna kelelahan di perjalanan wkwk

Setelah puas cekrak-cekrek untuk memenuhi kebutuhan galeri Hp dan postingan di media sosial kita beranjak dari tempat ini ke tempat wisata yang berikutnya yaitu kawah sikidang. Harga tiket masuk kawah sikidang sebesar Rp. 15.000,-/org. Aroma blerang sangat menyengat ketika kami sampai, disarankan menggunakan masker untuk menuju ke kawahnya. Kami pun melewati lorong-lorong tenda pedagang untuk menuju ke kawahnya, banyak pedagang dengan menjual hasil pertaniannya dan di olah sedemikian rupa menjadi makanan camilan seperti kentang goreng, jamur crispy dan manisan carica (sejenis buah pepaya yang hanya tumbuh didataran tinggi dieng). Disini juga terdapat arena untuk bermain motor tril, mungkin bagi anda pecinta motor tril sepertinya wajib deh untuk mencobanya hehe…Kami disini hanya sebentar saja karna tidak kuat menghirup aroma blerang di kawah tersebut.

Kami semua menggunakan masker dan buff karna tidak kuat menahan aroma blerang
Tempat arena bermain motor tril
Tepat berada di depan kawahnya

Setelah melihat kawah sikidang kami pun bergegas untuk kembali micro bus, dan sang supir pun mengantarkan tujuan kami selanjutnya yaitu telaga warna. Harga tiket masuk ke tempat wisata ini yaitu Rp 12.500/orang, kami pun langsung berjalan menyusuri pinggiran telaga. Telaganya berwarna hijau dengan udaranya yang sejuk membuat pikiran menjadi plong wkwkwk …Banyak sisa-sisa batang pohon yang tumbang disini. Setelah berfoto-foto kami pun menyempatkan membeli camilan berupa kentang goreng dan jamur crispy yang masih berada dalam kawasan telaga warna ini. Dengan cuaca yang dingin makan yang hangat-hangat dan masih fresh diambil dari hasil pertanian daerah tersebut membuat terasa lebih nikmat hehe..sumpah kentangnya tebel-tebel banget potongannya jadi bikin kenyang wkwkwk.

Ketika Ghofar dan Eddy melakukan sesi pemotretan diatas batang pohon yang tumbang
Kapanpun dimanapun harus tetap senyum wkwk

Tak terasa waktu pun sudah menunjukkan di angka 11.45, kami pun harus bergegas untuk melanjutkan ke desa patak banteng tempat dimana awal mula untuk pendakian ke gunung prau. Sang supir tadinya mau mengajak kami ke tempat wisata lain, namun berhubung waktunya sudah siang kami memutuskan untuk langsung ke basecamp patak banteng saja. Kami pun berpisah dengan sang supir namun esok nanti dia akan menjemput kami kembali dan mengantarkan kami ke terminal mendolo Wonosobo. Sebelum memulai pendakian kami mampir sebentar di indomaret untuk membeli berbagai macam kebutuhan logistik untuk pendakian nanti, letaknya tak jauh dari basecamp pendakian. Kami pun mendaftar dan membayar simaksi gunung prau sebesar Rp.10.000,-/org dan kami di berikan beberapa kantung plastik sampah agar nanti sampah logistik dibawa kembali ke bawah. Kami mampir sebentar ke warung di sekitar basecamp untuk mengisi perut dan melakukan ibadah sholat dzuhur. Setelah selesai semuanya kami pun siap-siap untuk mendaki, namun baru kami melangkahkan beberapa tapak kaki keluar warung tiba-tiba hujan turun dan kami terpaksa menunda pendakian dan kembali lagi ke warung tersebut. Hujan cukup lama mengguyur di sekitaran Dieng, kami pun memanfaatkannya dengan memejamkan mata agar bisa fresh ketika mendaki nanti. Sebelum Ashar hujan pun reda dan kami memutuskan untuk memulai pendakian setelah melakukan ibadah sholat Ashar. Singkat cerita setelah kami melakukan ibadah sholat Ashar kami pun bersiap untuk memulai pendakian, oh iya disini yang sudah pernah mendaki gunung adalah Ghofar dan Eddy, beliau sudah pernah mendaki gunung yang tinggi-tinggi seperti Semeru dan Rinjani. Dan berbekal pengalaman Ghofar yang sering mendaki gunung, dia seperti paham akan cuaca di gunung dengan melihat awan yang menyelimuti gunung Prau. Dan dia memutuskan oke kita berangkat sekarang !!!… Mendapat atensi dari sang pendaki ulung Ghofar yaudah kita ikuti dengan diiringi doa sebelum melakukan pendakian. Pendakian awal terasa berat karna harus melewati beberapa anak tangga dan itu sangat menguras tenaga dan fisik, namun bisa kami lewati dengan lancar . Singkat cerita di pertengahan pendakian hujan turun dengan intensitas sedang dan kami pun langsung bergegas untuk memakai jas hujan. Insting ghofar memang kuat karena hujan mengguyur tanpa ada petir dan angin kencang karna yang kami khawatirkan bukan hujannya tetapi petirnya terlebih beberapa bulan yang lalu ada pendaki yang tewas tersambar petir. Kami pun bersyukur karna perkiraan Ghofar tidak meleset bahwa kami masih bisa aman untuk mendaki. Dan yang terpenting kami masih berada di dalam lindungan Allah S.W.T

Walaupun hujan harus tetap selfie wkwk
Minus si ghofar yang sudah duluan nanjak beberapa meter di atas wkwk

Hujan pun reda dan kami harus terus mendaki agar sampai puncak sebelum datang gelap. Beberapa kali Eddy terjatuh karna dia hanya menggunakan sandal jepit(ampun dah ah betapa santainya dia naik gunung pake sendal jepit wkwk..). Pukul 17.58 kami pun telah sampai di puncak, tepat di waktu maghrib dan kami harus cepat-cepat mendirikan tenda karena kami khawatir terserang hypotermia akibat dari kehujanan dan sepatu yang basah. Setelah tenda sudah berdiri kami pun mengganti semua pakaian yang kami pakai ketika mendaki agar terhindar dari hypotermia. Dan kami menyiapkan makanan dan minuman hangat agar stamina tetap terjaga dan dapat tertidur pulas agar besok dapat menyaksikan sunrise terbaik dan terindah di pulau jawa hehe…

Suasana di dalam tenda ketika sedang menyantap makanan berupa pop mie dan roti

Waktu menunjukkan pukul 03.45 W.I.B gua pun terbangun dari tidur karna kebelet untuk buang air kecil. Begitu gua keluar dari tenda wauuuwww… Indah banget bintang-bintang yang ada dilangit sumpah, berasa dekat sama kepala kita (wkwkwk lebay ). Setelah buang air kecil gua akhirnya gak bisa tidur lagi. Yaudah gua buka Hp aja untuk lihat galeri foto-foto yang pas di wisata Dieng tadi siang, secara koneksi internet kagak ada wkwk. Sekalian menunggu sunrise hehe. Gak berasa main hp tiba-tiba diluar udah terdengar suara-suara pendaki lain padahal waktu masih menunjukkan sekitar pukul 05.00 WIB . Gua penasaran, lalu gua lihat keluar ternyata udah akan mulai matahari menampakkan diri setelah ke tempat peristirahatannya (aseeek). Gak pake lama langsung gua bangunin yang lain untuk menikmati sunrisenya.

Awal mula matahari akan terbit
Gelap ya guys wkwk
Ketika Istiyar dan Dani lagi bertingkah
Warna sinar yang kuning keemasan atau biasa disebut golden sunrise
Semakin pagi semakin hangat
Gunung Sindoro Sumbing yang selalu setia berdampingan

Setelah puas menikmati sunrise waktunya kami menjemur pakaian yang kebasahan karna hujan kemarin sore. Sembari kita menunggu kering pakaian, kami pun membuat makanan untuk sarapan agar saat turun nanti memiliki stamina yang cukup. Kami membuat mie instan, Agar-agar dan minuman coklat panas dan tak lupa roti, biskuit, wafer kami keluarkan semua untuk di santap hehe…

Tas, sepatu, dan pakaian yang di jemur wkwk
Sarapan dulu guyss

Sarapan telah selesai dan kami pun merapihkan sisa-sisa sampah bekas logistik kami untuk di taruh di kantung plastik sampah dan nantinya akan dibawa kembali ke bawah. Jadi dimanapun kamu berada buanglah mantan sampah pada tempatnya ya hehe… sekitar pukul 09.00 WIB kami berkemas dan merapihkan pakaian-pakaian kami yang telah kering terjemur. Lalu kami membereskan tenda, dan persiapan untuk turun ke bawah . Sebelum melakukan perjalanan turun kami sempatkan berdoa dulu kepada Allah S.W.T atas nikmatnya kami bisa diberikan kesempatan untuk menyaksikan keindahan maha karya ciptaan-Nya . Kami pun turun dengan perlahan dan sangat hati-hati karna track sangat licin bekas hujan kemarin sore , dan seperti biasa si Eddy terpleset 2 kali dan disinilah si Dani mulai tertawa karna melihat Eddy jatuh. Tak hanya itu si Istiyar pun sampai 5 x jatuh bangun saking licinnya track, dan Dani pun sangat kegirangan melihat temannya ada yang jatuh wkwk sampai-sampai si Istiyar sempat kesal karna bukannya di tolongin malah di tertawakan wkwkwk. Gua pun juga jatuh 2 kali namun gak sampai telak karna masih gua tahan sama tangan, bokong gua belum sampai menyentuh tanah hehe jadi si Dani gak bisa menertawakan gua wkwkwk. Setelah hampir sampai di basecamp ada sekelompok perempuan yang baru ingin mendaki, dan kalian tau apa yang terjadi ?? Si Dani yang sedari tadi menertawakan orang terjatuh akhirnya dia merasakan juga, dan jatuhnya sangat telak sampai terlentang tiduran wkwkwk..terlebih jatuhnya tepat di depan sekelompok perempuan itu hahaha. Sontak semuanya tertawa terpingkal-pingkal, dan tau kan siapa yang paling puas tertawanya ??? Ya betul Istiyarlah yang terselesaikan dendamnya wkwkwk..di perjalanan turun hanya Ghofar lah yang gak jatuh sama sekali secara dia pendaki yang berpengalaman hehe.

Kami pun telah sampai di basecamp pukul 10.15 WIB. Kami melapor diri dan menyerahkan sampah kami yang kami bawa turun. Kami pun ke toilet untuk bersih-bersih dan mandi, walaupun airnya sangat dingin seperti air es.

Setelah kami mandi di basecamp patak banteng

Setelah semuanya selesai kami pun menghubungi sang supir yang kemarin mengantarkan kami. Ternyata dia sedang tidak narik dan digantikan oleh temannya, tetapi beliau sudah menghubungi temannya  kalau harus mengantarkan kami ke terminal Mendolo Wonosobo. Kami pun tinggal naik tanpa harus mengeluarkan ongkos lagi.

Sesampainya di depan terminal mendolo kami janjian kepada yang empunya tenda untuk memulangkan tendanya, dan kami pun sangat berterimakasih kepada beliau. Kami pun menyempatkan untuk membeli oleh-oleh khas Wonosobo, setelah itu dilanjutkan untuk makan siang sebelum menaikki bus ke Jakarta.

Isi perut dulu wkwk

Pada saat pulang kami terpisah terbagi dua. Eddy, Ghofar dan Dani menaikki bus jurusan Depok secara mereka tinggal di daerah Depok. Mereka menaikki bus Po. Dieng Indah dengan tarif Rp.100.000,-. Sedangkan gua dan Istiyar menggunakan bus Po. Rosalia Indah jurusan kp.Rambutan secara gua rumahnya di Cipayung dan si Istiyar di Ciracas Jakarta Timur. Tarifnya untuk bus ini Rp. 135.000,- kelas executif dan mendapatkan service makan 1 x. Diperjalanan pulang gua berdua Istiyar waktunya dihabiskan untuk tidur karna mata gua sangat ngantuk secar gua bangun pkl .04.00.

Oke sekian catatan perjalanan dari gua, kurang lebihnya mohon maaf. Semoga catatan gua bisa bermanfaat untuk kalian yang membaca. Terimakasih wassalamualikum wr.wb

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai