Duo Backpacker Eksplore Jawa Timur ( Banyuwangi) part 1

Assalamualaikum wr.wb

Hallo semua….masih pada sehat kan ?? Hehe… Oke setelah gua membuat catatan perjalanan yang pertama yaitu Backpacker ke Dieng dan Gunung Prau , kali ini gua ingin membagikan catatan perjalanan gua mengeksplore keindahan di ujung Jawa Timur yaitu Banyuwangi. Catatan perjalanan ini gua buat menjadi 2 bagian, karna yang kedua nanti gua mengeksplore kota yang berbeda namun masih tetap di wilayah provinsi Jawa Timur juga. Oke seperti yang sebelumnya  perjalanan kali ini gua lakukan juga pada tahun 2017, tepatnya pada tanggal 10 November 2017. Gua mengeksplore Banyuwangi ini hanya berdua bersama kawan gua yang juga ikut berangkat ke Dieng waktu lalu namanya Eddy.

Perjalanan kami mulai pada pukul 08.00 wib dengan menaikki krl dari stasiun Pondok cinta Cina menuju stasiun Gondangdia, keadaan didalam krl penuh sesak secara pada saat itu masih hari kerja yaitu hari Jumat. Dari stasiun gondangdia kami melanjutkan perjalanan ke stasiun Pasar Senen dengan menggunakan bajaj. Pada waktu itu ongkos bajajnya Rp. 15.000,- , namun sebelum menaiki bajaj kami berdua memutuskan untuk membeli kebutuhan logistik dulu di Indomaret sekitaran stasiun Gondangdia, agar kami mempunyai bekal yang cukup dari segi makanan dan minuman di dalam kereta selama perjalanan. Setelah selesai berbelanja kebutuhan logistik kami pun mengarah ke stasiun Ps. Senen dengan menggunakan bajaj, kira-kira sekitar 15 menit lah dari stasiun Gondangdia ke stasiun Ps. Senen.

Setibanya di stasiun Ps. Senen kami mencetak tiket yang sudah kami beli melalui aplikasi. Kami menggunakan kereta api ekonomi Gaya Baru Malam Selatan (GBMS) tujuan Surabaya Gubeng dengan harga tiket sebesar Rp 104.000,- , dan di aplikasi tersebut terdapat potongan harga sebesar Rp. 10.000,- , jadi kami sampai Surabaya hanya membayar Rp 94.000,- wkwkwk , murah meriah kan …? Sebagai Backpacker kita harus smart dalam urusan badget betul gak ?.. hehehe…Lagi pula tenang kok murah bukan berarti kualitasnya asal-asalan. Kereta api kelas ekonomi sekarang sudah tertata rapih dan terdapat pendingin udara juga di dalam setiap gerbong. PT. KAI telah berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pelayanan penumpang, terlebih itu adalah kereta api jarak jauh yang memakan waktu tempuh lama, yang pasti akan menjadi prioritas utama PT. KAI dalam pembenahan dan peningkatan kualitas pelayanan.

Oke balik lagi ke laptop cerita heheh… Waktu telah menunjukkan pukul 09.15 WIB, itu artinya proses boarding untuk masuk ke dalam peron stasiun telah dibuka. Kereta api GBMS ini dijadwalkan berangkat pukul 10.15 WIB, kami pun segera melakukan proses boarding untuk menuju ke kereta. Waktu tempuh untuk menuju Surabaya sekitar -/+ 16 jam . Lama banget yaaa… ? Karna KA GBMS ini melewati jalur selatan via Purwokerto, Kebumen, Jogja dan lalu mengarah ke arah Surabaya. Gak kebayangkan betenya kaya apa di kereta wkwkwk …

Ini Kereta Api Gaya Baru Malam Selatan di stasiun Ps. Senen menunggu jadwal pemberangkatan

Jam menunjukkan pukul 10.15 WIB. Sang kondektur pun siap menerima aba-aba dari pengawas area peron (PAP) untuk memberangkatkan kereta. Peluit pun di bunyikan oleh sang kondektur, pertanda kereta akan segera di berangkatkan. Di dalam kereta sendiri kami banyak menghabiskan untuk mengobrol=》main hp=》tidur=》ngemil=》mengobrol=》main hp=》tidur=》ngemil=》. Gitu-gitu aja terus sampai 16 jam wkwkwk…

Di dalam gerbong KA GBMS di malam hari
Muka lelah dan bete wkwk

Tak banyak cerita di perjalanan karna aktivitas kami hanya monoton begitu-begitu saja hehe… Singkat cerita KA GBMS yang kami tumpangi sudah sampai di tujuan akhir stasiun Surabaya Gubeng. Tepat pukul 01.35 WIB kereta sampai ,sesusai jadwal yang tertera. Dan kami bergegas keluar stasiun untuk mencari mushola untuk keperluan ibadah dan bersih-bersih. Berjarak 300 meter dari stasiun terdapat pom bensin, ya sudah disitu menjadi tempat kami bersih-bersih dan melakukan ibadah.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 03.00 WIB, kami pun segera mencari makanan untuk mengisi perut kami sebelum kami melanjutkan lagi perjalanan ke Stasiun Karangasem Banyuwangi. Kaki ini melangkahkan ke arah stasiun Surabaya Gubeng kembali, di sini kami makan nasi goreng yang berada tepat di depan stasiun. Namanya nasi goreng suramadu, uniknya nasi goreng ini tidak pakai sambal tetapi memakai irisan cabai untuk menambah rasa pedasnya. Pagi-pagi udah ketemu cabe bulet-bulet wkwk, tetapi enak sih nasi gorengnya . Yaa lumayan lah untuk mengganjal perut hehe.

Setengah jam kami menghabiskan waktu untuk makan, dan tibalah pukul 03.30 WIB. Pintu boarding telah dibuka dan kami pun mencetak tiket yang telah kami pesan juga sebelumnya di aplikasi. Kami akan menaiki KA Probowangi yang bertujuan akhir stasiun Banyuwangi Baru, kereta di jadwalkan berangkat pukul 04.25 WIB. Harga tiketnya sebesar Rp. 56.000,-. Perjalanan memakan waktu tempuh sekitar 7 jam, gak kebayangkan pegelnya seperti apa ? Setelah 16 jam + 7 jam wkwkwk … Pukul 04.00 WIB kami melakukan proses boarding, setelah itu kami sempatkan untuk ibadah sholat subuh di mushola yang berada di area peron stasiun. Setelah selesai kami bersiap untuk menaiki KA Probowangi.

KA Probowangi siap diberangkatkan

Di kereta kami melanjutkan tidur karna ngantuk dan lelah sekali. Dan ketika kami terbangun kami telah berada di stasiun Jember, nah yang saya suka dari perjalanan Jember =》 Banyuwangi ini adalah view pemandangan yang indah banget, melintasi bukit-bukit dan alas gumitir . Sumpah keren banget…

Tak lama berselang kami pun akhirnya tiba di stasiun Karangasem pukul 11.24 WIB tepat sesuai jadwal, kenapa kami memilih stasiun Karangasem di banding memilih stasiun Banyuwangi Baru ? Karna stasiun Karangasem letaknya lebih strategis dan lebih dekat dengan pusat kota. Dan diepan stasiun persis terdapat penginapan dan penyewaan motor. Kami pun segera menghampiri ke tempat penginapan yang terkenal dengan nama Toko Pak Subur. Kalangan Backpacker yang pernah ke Banyuwangi pasti sudah tau penginapan toko Pak Subur. Pemiliknya ramah Pak subur dan sang istri Bu Dewi, kami pada saat itu di sambut oleh Bu Dewi . Oh iya kami sudah menghubungi jauh-jauh hari untuk ketersediaan kamar dan motor yang akan nanti kami sewa loh yaa.. Bu Dewi pun mengantarkan kami ke kamar yang berada di atas. Kami mendapatkan kamar yang berhadapan langsung dengan stasiun. Pokoknya mantap lah jadi rame hehe. Harga sewa/kamar Rp 90.000,- dan kami menginap selama 3 hari disini. Kami beristirahat dulu setelah lelah melakukan perjalanan seharian dari Jakarta menuju Banyuwangi..

Stasiun Karangasem yang di foto dari tempat penginapan

Waktunya explore hari pertama di Banyuwangi hehe…Sekitar pukul 14.15 WIB menjelang sore kami memutuskan untuk mencari makan siang dan sekalian pergi ke taman nasional Baluran. Kami memutuskan untuk makan sego tempong Mbok Wah yang terkenal di karangasem. Berbekal arahan dari Ibu Dewi kami pun bergegas menuju kesana dengan menggunakan motor Vario 125 cc yang kami sewa di penginapan selama 2 hari. Untuk harga sewanya Rp 85.000,-/hari, kami mendapatkan motor yang terbilang masih oke dari segi tenaga,pengereman dan ban. Oke skip…waktunya kita menuju ke rumah makan Mbok Wah yang berjarak sekitar 2 km dari penginapan. Namun setelah kami berjalan tidak juga ketemu rumah makan tersebut, hampir 20 menit kami mutar-muter kesasar wkwkwk. Dan akhirnya kita menggunakan GPS , tak beberapa lama kami pun sampai tujuan. Kami terlalu meremehkan dengan sok tau mencari tempat itu tanpa bantuan GPS walaupun hanya berjarak 2 km wkwkwk. Akhirnya kami berdua makan di tempat itu dengan menu khasnya sego tempong. Kenapa dinamakan sego tempong ?.. karna nasi dan lauknya banyak banget, sudah seperti mau menempong orang wkwk. Lalapan rebus dan sambelnya itu loh yang menjadi ciri khasnya…pedes banget sumpah, ditambah lauk pauk seperti Ayam, Ikan, Empal, tahu, tempe jadi makin nikmat.

Setelah kenyang makan waktunya kami meneruskan perjalanan ke Taman Nasional Baluran yang terletak di kabupaten Situbondo Jawa Timur. Jarak antara Karangasem ke Taman Nasional Baluran -/+ sekitar 50 km , memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Kami menyusuri jalan Banyuwangi-Situbondo dengan bermodalkan GPS di smartphone kami. Kami melewati pelabuhan ketapang Banyuwangi yang berada di sebelah kanan jalan. Bagi kamu yang ingin ke Bali, disinilah tempat penyebrangan dengan menggunakan kapal fery. Gua pun terus memacu kendaraan sampai di angka kecepatan 90 km/jam ke atas karna jalanan terbilang sangat sepi, dan agar tidak kemalaman sampai sana. Sesekali kami berhenti untuk menanyakan kepada GPS yang lain yaitu Gunakan Penduduk Setempat untuk meyakinkan bahwa kami tidak salah jalan.

Pukul 16.15 WIB tibalah kami di gerbang masuk Taman Nasional Baluran. Kami pun harus membayar tiket masuk sebesar Rp 17.500/org dan untuk motor roda 2 sebesar Rp 7.500,- karna kami datang pada hari sabtu, biasanya hanya Rp 15.000,-untuk tiket masuk dan Rp 5.000,- untuk motor.

Ketika berada digerbang masuk

Dari gerbang masuk ke savana bekol sekitar setengah jam lagi. Tak perlu berlama-lama kami langsung tancap gas lagi untuk menuju ke savana bekol, jalan menuju savana bekol sangat rusak parah, jalan bebatuan harus kami lewati, untung saja kami dapat melaluinya dengan baik. Setelah kami berjuang melewati jalanan bebatuan akhirnya kami sampai di savana bekol. Horeee…..wkwkwkwk…

Papan selamat datang savana bekol
Bendera komunitas tak pernah ketinggalan wkwk
Berteduh di pelukanmu bawah pohon wkwk
Action dulu guys

Di savana ini banyak terdapat hewan rusa dan beberapa burung merak. Kita gak boleh dekat-dekat dengan hewan tersebut karna dikhawatirkan akan mengganggu aktivitas hewan tersebut. Setelah puas berfoto kami pun langsung menuju pantai Bama yang letaknya tak jauh dari savana bekol dan masih dalam kawasan Taman Nasional Baluran. Hanya 5 menit perjalanan dari savana bekol, di sepanjang jalan banyak terdapat monyet-monyet berkeliaran, tenang mereka tidak mengganggu kok hehehe… Setelah sampai di tujuan kami hanya duduk-duduk santai di pinggiran pantai, kami tidak bermain air karna hari sudah sore.

Bersih ya pantainya..

Tak terasa sudah pukul 17.00 WIB dan kami belum melaksanakan sholat Ashar, akhirnya kami pun bergegas ke mushola yang berada di savana bekol untuk melaksanakan sholat Ashar. Setelah kami selesai melaksanakan sholat Ashar, kami pun langsung kembali ke tempat penginapan dengan melewati rute yang sama ketika kami berangkat tadi. Sesampainya di penginapan kami pun istirahat untuk melakukan perjalanan esok hari ke tempat wisata lainnya hehe…

Hari berganti musim pun berubah wkwk lebay hahaha.. Sekarang waktunya explore Banyuwangi hari ke 2. Pagi-pagi setelah sholat subuh dan sarapan kami berdua langsung ingin tancap gas, teluk hijau dan pantai pulau merah. Berbekal petunjuk dari Pak Subur sang pemilik penginapan tentang rute perjalanan kami pun langsung tanpa berlama-lama untuk melakukan perjalanan menuju destinasi tersebut. Jarak tempuh dari penginapan kami ke teluk hijau sekitar 90 km dan memakan waktu sekitar 2 jam untuk kami dengan menggunakan sepeda motor. Selain berbekal petunjuk dari pak Subur kami pun juga selalu setia menggunakan GPS. Jalanannya sepi jarang kendaraan jadi bisa tancap gas sampai di angka 90 km/jam, tetapi harus tetap safety ya kawan hehe… Jalanan menuju ke teluk juga sangat menyenangkan, kita disuguhkan pemandangan dan udara segar dari tumbuh-tumbuhan yang berada di PT. Perkebunan Nusantara (PTPN). Namun pada saat mulai mendekati teluk jalan mulai rusak parah, banyak bebatuan, sehingga sedikit agak sulit mengendalikan kendaraan  sepeda motor. Harga tiket masuknya hanya Rp. 7.500/org, murah kan ?? . Setelah dari tempat parkir motor kami harus berjalan menaiki dan menuruni anak tangga berjarak sekitar 1 km. Dan setelah sampai pantainya… beeuuh mantap deh bersih,sepi  berasa di private beach.

Jalan yang rusak penuh bebatuan menuju teluk
Harus tracking sekitar 1 km menuju teluk hijau
Private beach
Ombaknya tenang

Setelah dari teluk hijau kami pun langsung bergegas untuk ke destinasi selanjutnya yaitu pantai pulau merah. Letaknya tak jauh dari teluk hijau sekitar 30 km, waktu tempuh berkisar antara 45 – 60 menit karna faktor sebagian jalan yang rusak. Di sepanjang jalan menuju pantai pulau merah banyak di temukan penjual buah naga, dan harganya murah 10.000 dapat 2 kg, murah banget ya ?..

Oke setelah sampai seperti biasa kita membeli tiket masuk yang harganya sebesar Rp 8.000/org dan roda 2 dikenakan biaya sebesar Rp 5.000,-. Kami tidak bermain air disini, kami hanya sekedar foto-foto dan menikmati air kelapa hijau bulat yang harganya hanya Rp 10.000/buah. Beda dengan teluk hijau, pantai ini lebih ramai oleh pengunjung.

Gundukkan tanah yang menyerupai pulau dibelakang inilah yang disebut pulau merah dikarenakan tananhnya apabila terkena sinar matahari berwarna kemerah-kemerahan

Puas menikmati suasana pantai kami pun langsung kembali menuju ke penginapan kembali untuk berisitirahat sebelum nanti tengah malam untuk persiapan menuju kawah ijen. Kami sampai di penginapan sekitar pkl 14.15 WIB.

Detik waktu tak berasa sudah pkl 22.00 malam, hujan mengguyur di tanah Banyuwangi pada malam itu. Hati pun merasa cemas, masa iyaa ke kawah ijen harus dibatalkan ?.. pukul 23.00 pun hujan masih mengguyur, kami harus siap-siap sembari berharap hujan akan reda. Kami pun ke lantai bawah ke toko kelontongnya Pak Subur untuk membeli segala perbekalan untuk pendakian ke kawah ijen. Setelah barang-barang yang dibutuhkan sudah terbeli kami pun duduk-duduk di parkiran penginapan Pak Subur, disitu ada penjaga penginapan dan parkiran yang masih kerabatnya pak Subur (saya lupa namanya). Kami pun berbincang-bincang hangat dengan beliau, beliau mengatakan “tenang saja mas, biasanya dikarangasem hujan namun di atas (daerah kawah ijen) kering atau sebaliknya”. Mendengar pernyataan beliau kami pun sedikit lega hehe.. namun jam sudah menunjukkan pkl 23.30 WIB langit pun belum menunjukkan tanda-tanda ia akan menyudahi tangisannya (sok puitis wkwk). Penjaga penginapan tadi pun menawarkan kami “kalau seandainya hujan tidak reda mau gak di carikan mobil rental untuk mengantarkan ke kawah ijen, biayanya Rp.300.000,- PP sudah termasuk driver,bensin ?” . Dalam hati kami mulai tertarik juga sih dari pada tidak sama sekali ke kawah ijen sudah jauh-jauh kesini. Kami pun menjawab “yaudah pak kita tunggu saja sampai jam 1 tengah malam ya pak, kalau seandainya hujan reda kami akan menggunakan sepeda motor saja”.

Setelah berbincang-bincang, Alhamdulillah pkl 23.45,- WIB hujan pun reda dan hanya gerimis kecil. Kami pun segera pamit dengan sang penjaga penginapan, tak lupa memakai jas hujan plastik agar pakaian terhindar dari cipratan bekas air hujan di aspal jalanan. Jarak dari penginapan ke kawah ijen sekitar 40 km, menempuh waktu perjalanan sekitar 1 jam 30 menit dikarenakan sehabis hujan dan jalanan yang berlika-liku naik turun, samping kanan kiri jurang dan minim penerangan serta jarang sama sekali kendaraan melintas , yaiyalah sekarang sudah tengah malam menjelang dini hari wkwk. Kami harus extra waspada dalam berkendara, telat belok sedikit di tikungan bisa langsung masuk ke jurang. Tetapi Alhamdulillah akhirnya kami sampai di parkiran pos paltuding tempat dimana pendakian awal dimulai. Kenapa kami berangkat malam hari ? Karna pos paltuding sendiri baru di buka pkl 01.00 WIB. Harga tiket masuknya RP. 7.500/org,- , inilah yang gua suka dari Banyuwangi untuk HTM wisatanya murah meriah hehe. Sebelum kami mendaki kami sempat mengobrol-ngobrol dengan penjual di kawah ijen bahwa di bawah saat ini suhunya berkisar 6° C mungkin diatas bisa lebih dari ini. Memang benar ketika berbicara saja mulut kita sudah mengeluarkan embun, dingin banget. Tetapi banyak bule-bule di sini hanya pada memakai kemeja lengan pendek tanpa menggunakan jaket wkwkwk, gua juga heran terbuat dari kulit apa mereka haha.. mungkin karna di negaranya pun sudah biasa kali ya dengan suhu seperti ini bahkan lebih extrem lagi dikala musim salju di negara mereka.

Embun keluar dari mulut ketika kami berbicara

Hampir terserang hypotermia di puncak ijen.

Pukul 01.30 WIB kami memulai pendakian, berbekal headlamp dan masker khusus yang kami sewa dipenginapan kaki kami mulai melangkah naik, pendakian memakan waktu sekitar 2-3 jam tergantung kondisi fisik, ketinggian kawah ijen sendiri berkisar 2799 Mdpl. Tracknya cukup bagus dan mudah berupa tanah yang padat, dan Alhamdulillah disini tidak hujan, berarti benar apa yang dikatakan penjaga penginapan tersebut. Kami pun mendaki dengan santai dan mengatur ritme perjalanan, terkadang sesekali beristirahat untuk minum dan memakan wafer coklat agar dapat menambah stamina ketika mendaki. Di sepanjang pendakian cukup ramai jadi jangan takut untuk kalian yang mendaki sendiri tengah malam, sebab banyak pengunjung memilih tengah malam untuk mendaki agar mereka bisa dapat melihat blue fire(Api biru yang tak pernah padam akibat gas didalam bumi) dalam kegelapan. Kalian harus tau bahwa di dunia ini hanya ada 2 blue fire,yang pertama di Islandia dan yang kedua di Indonesia… jadi kalian harus Bangga tuh punya negara yang kaya raya akan keindahan alamnya. Oke skip… Di tengah pendakian kami bertemu pendaki asal Depok juga (lupa namanya wkwk) kami mengobrol sepanjang pendakian, dan kami berpisah ketika hampir di puncak karna mereka ingin istirahat dahulu. Ketika kami sampai dipuncak disinilah masalah mulai terjadi, kami hanya membawa 1 tas, di dalam tas itu terdapat logistik makanan dan baju salin gua, si Eddya yang membawa tasnya. Kami berjalanlah turun untuk ke kawah melihat blue fire, si Eddy jalan duluan dan gua belakangan, ketika beberapa meter ke bawah gua mengurungkan niat untuk melihat ke blue fire karna tracknya curam dan penuh bebatuan. Engkel kaki gua dulu pernah cidera akibat ikut turnamen futsal yang mewakili kantor gua. Melihat track yang seperti itu gua takut kaki gua salah pijak terus bisa terkilir lagi, jadi repot kan nanti wkwk. Akhirnya gua memutuskan untuk naik lagi ke atas sedangkan Eddy terus melanjutkan ke bawah, dan fatalnya gua lupa minta baju salin gua dan logistik yang ada di tas yang Eddy bawa (ampun dah ah). Si Eddy pun mengira gua tetap ikut turun membuntuti dia sampai ke blue fire sampai-sampai katanya dia teriak-teriak nyebutin nama gua padahal gua di atas wkwk… Mulai lah gua merasa kedinginan yang sangat luar biasa, menggigil seada-adanya ditambah lagi baju yang basah karna keringat mudah sekali menyerap dingin, gua bakar rokok berkali-kali supaya bisa sedikit menghangatkan dan agar gua tetap terkontrol dan tetap sadarkan diri. Tetapi itu semua hanya sia-sia, udara dingin tetap menusuk-nusuk kulit padahal sudah pakai kupluk kepala, buff, sarung tangan tetapi tetap saja kedinginan karna gua masih memakai pakaian yang basah karna keringat pas mendaki. Gua pun pasrah segala macam doa, dzikir, isitigfar sudah gua lantunin, tubuh gua sengaja gua ajak jalan mondar-mandir agar tetap terkontrol. Lalu apa yang terjadi ..??? Alhamdulillah pertolongan Allah datang juga, ada pendaki dari Lampung (gua lupa juga namanya wkwk), dia ikut open trip dan dia sudah sampai duluan di puncak sedangkan rombongannya masih tertinggal di belakang. Sembari menunggu rombongannya dia mengajak ngobrol gua panjang lebar mengenai studinya dan pekerjaannya…ya intinya kami saling bertukar ceritalah. Alhamdulillah dalam benak gua berkata, sebab ketika seseorang telah terkena gejala hypotermia harus tetap diajak bicara jangan sampai pikiran kosong dan itu mencegah terjadinya tidak sadarkan diri, jikalau sudah tidak sadarkan diri yasudah Wasalam. Dia pun mengeluarkan beberapa buah anggur dari sakunya dan menawarkan ke gua, gua ambil aja beberapa butir untuk mengasamkan mulut dan agar mulut ada aktivitasnya sebab gigi gua beradu sedari tadi karna menggigil kedinginan. Setelah 30 menitan ngobrol dia pun dipanggil oleh ketua open trip beliau dan kami pun berpisah. Dan gua berasa kedinginan lagi huhuhu ….selang beberapa lama ada terdengar sahut-sahut orang memanggil nama gua, dan ternyata itu si Eddy. Gak pakai lama langsung gua ambil tasnya dan gua ganti baju yang gua pakai dan gua makan serta minum logistik yang ada di tas. Alhamdulillah ya Allah…,gua jelasin dah sama Eddy apa yang terjadi sama gua.

Harus turun kebawah untuk mencapai kawahnya dan penuh perjuangan untuk dapat view seindah ini
Bendera yang mampu mengurangi udara dingin yang menusuk
Ekspresi kedingininan berrrrrrr….
Harus menggunakan masker khusus untuk menghindari aroma yang menyengat dari blerang.

Setelah puas mengabadikan momen di kawah ijen kami pun memutuskan untuk turun. Karna semakin matahari naik maka angin semakin kencang dan aroma blerang pun pasti semakin kuat berhembus. Kami turun secara santai karna sangat kelelahan. Disini banyak yang menawarkan jasa ojek manusia dengan menggunakan gerobak bagi mereka yang sudah kelelahan, biayanya terbilang mahal berkisar Rp 250.000 – Rp 750.000 tergantung seberapa jauh jaraknya. Karna kondisi kami masih terbilang mampu yasudah kami tetap berjalan kaki sampai ke bawah.

Inilah penampakkan ojek menggunakan gerobak dan didorong oleh tenaga manusia, biasanya yang naik adalah ibu-ibu atau bapak-bapak yang sudah tidak muda lagi.
Tracknya nih guys..kami foto ketika kami turun karna semalam gelap pas naik.
Ternyata view pas perjalanan turun bagus juga yaa.. karna pas naik gelap jadi gak terlihat wkwk.
Tracknya bagus, lebar, kontur tanahnya padat dan berpasir jadi mudah untuk dipijak.

Tak terasa pukul 07.30 kami sudah berada di parkiran pos paltuding, kami pun istirahat sejenak untuk minum teh sebelum kembali ke penginapan. Sekitar setengah jam kami istirahat kami lalu bergegas untuk pulang ke penginapan. Di perjalanan pulang seperti biasa gua yang membawa motor, di tengah perjalanan mata gua udah gak bisa di ajak kompromi lagi, akhirnya bertukar posisi lah gua sama Eddy. Baru beberapa menit berjalan motor kami oleng ke kanan, penyebabnya adalah karna gua ketiduran dan tubuh gua hampir rebah ke sebelah kanan wkwkwk… untung si Eddy masih bisa mengendalikannya kalau tidak amsyong dah kita bisa jatuh berdua dan menggantikan body motor yang rusak, tetapi Alhamdulillah sekali lagi kita masih dalam perlindungan Allah S.W.T .

Kami pun sampai di penginapan pukul 10.00 karna kami mampir sebentar untuk sarapan di pertengahan perjalanan. Kami pun mengembalikan motor yang kami sewa tepat 2 hari, Bu Dewi menawarkan kenapa tidak main dulu ke Bali tinggal 45 menit ke pelabuhan lalu tinggal nyebrang menggunakan kapal fery sekitar 30 menit. Kami menolaknya karna alasan keselamatan sebab kami sudah sangat lelah sekali, bahaya bila dipaksakan. Kami pun dari siang sampai malam hanya beristirahat di penginapan untuk memulihkan kondisi fisik agar besok pagi bisa prima untuk melanjutkan perjalanan ke kota lain menggunakan kereta api.

Sekian perjalanan kami dalam mengeksplorasi keindahan alam di Banyuwangi dalam catatan perjalanan gua di jawa timur part 1, nantikan catatan perjalanan gua selanjutnya di Duo Backpacker Explore Jawa Timur (Batu Malang) Part 2 yaaa hehe… semoga catatan ini bermanfaat untuk kalian yang ingin berlibur di Banyuwangi

Terimakasih sudah membaca catatan gua…wasalamualikum wr.wb

Diterbitkan oleh bfajarnuary

Saya hanya seseorang biasa yang memiliki hobi traveling ...

Satu pendapat untuk “Duo Backpacker Eksplore Jawa Timur ( Banyuwangi) part 1

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai